Assalamu 'alaikum Wr. Wb. :)
Setelah lewat satu bulan, akhirnya kemarin, bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2012, selesailah sudah revisi secara keseluruhan novel Prahara Nusantara dan telah dikirimkan kembali ke pihak editor. Mudah-mudahan tidak ada perubahan berarti dan dapat segera naik cetak, alhamdulillah! :)
Tak sabar menanti, selanjutnya tanda tangan kontrak dan pemilihan cover. Ada masukan bagaimana supaya cover-nya terlihat lebih ciamik? Pada waktu diterbitkan secara gerilya bagian pertama dari novel ini dengan judul GEGER SATRIO PININGIT: Eka Parwa - Serat Kalatidha, melalui Nulisbuku.com di bawah bendera ARYANI Books, label sendiri menggunakan nama istri hehehe, banyak kritik membangun, lebih tepatnya protes sich hehehe, mengapa covernya begitu? Kenapa harus seperti itu?!Yach, maksudnya, seperti ini nich... ^^;
Oke, silakan protes lagi hehehe. Penulis mengakui, pada waktu itu karena terburu-buru, selain sebab keterbatasan waktu, juga tak sempat membuat cover yang catchy dan pantas untuk novel perdana tersebut. Selain itu, penulis tidak berbakat dalam desain grafis, jadi, yach, maaf... ^^; Banyak yang bertanya-tanya, mengapa ada Crop Circle di situ? Ya! Mengapa harus Crop Circle? Memangnya relevan dengan gambar wayang kulit tokoh Parikesit di bawahnya? Apakah akan menjadi bagian dari alur cerita? Jawabnya, uhuk-uhuk... YA! (Spoiler Alert!!!). Tapi baru akan dimunculkan pada bagian akhir cerita, dan saat disebut cerita, artinya belum tentu ada di buku pertama dari PRAHARA NUSANTARA! :)
YA! Lagi-lagi, YA! Kisah ini belum selesai pada buku pertama! Dan insya Allah buku kedua yang telah mulai ditulis dengan kecepatan tinggi akan menjadi lebih seru dan lebih baik dari buku pertama, semoga! Meskipun buku yang insya Allah segera terbit ini juga sudah merupakan gabungan dari buku 1 dan 2 dari judul semula GEGER SATRIO PININGIT! -- Setelah Dwi Parwa - Jangka Jayabaya, awalnya direncanakan buku pamungkas dari trilogi akan diberi judul Tri Parwa - Adiwiracarita Mahabharata! -- Kini, ketiganya menjadi tiga bagian utama dalam satu buku, yakni PRAHARA NUSANTARA, dengan parwa atau bagian ketiga supaya lebih greget, lebih menggigit dan tertangkap esensinya diberi judul Kakawin Bharatayudha!
Sekalian saja, berikut adalah rencana awal cover untuk buku 2 dan 3 GEGER SATRIO PININGIT! :D
Ya, ya! Mungkin kini sudah mulai terbaca dan menimbulkan banyak pertanyaan. Setelah Crop Circle di buku pertama, lalu Borobudur di buku kedua, dan ketiga, apa lagi itu? Penulis rasa, kini pembaca sudah lebih banyak mengikuti perkembangan terkini, penemuan konon piramida yang tertimbun tanah dan terbungkus jadi gunung, semula di Sadahurip, kemudian beberapa tempat lain, dan terakhir yang lebih kontroversial, Gunung Padang di Cianjur! Konon, sisa peninggalan kejayaan peradaban Nusantara di zaman megalitikum :)
BENAR! Sejak semula, ketiga unsur itu telah menjadi bagian dari alur cerita utuh novel PRAHARA NUSANTARA! Jika pembaca memperhatikan keterangan pada bagian Tentang Penulis, misi penulis yang mengagumi kearifan local genius dan menghargai warisan budaya leluhur bangsa, adalah merajut benang merah rekam jejak para tokoh bangsa dan meramu dalam novel bersemangat pemuda yang mencintai negerinya, berlatar kekinian namun relevan dengan kejayaan peradaban masa silam sebagai cerminan. Cieeee... :D Insya Allah penulis akan membagikan teaser terbaru mengenai hubungan ketiga gambar yang muncul di cover dengan rangkaian cerita dalam novel. Ditunggu yaaa! :)
Maka kembali ke judul entri ini. Apa hubungannya Pancasila Sakti dan Prahara Nusantara? Tanggal 1 Oktober dijadikan Peringatan Hari Kesaktian Pancasila oleh pemerintah Republik Indonesia pada era Orde Baru. Adapun yang dijadikan landasannya pada waktu itu, adalah bahwa upaya makar dan pengkhianatan melalui Gerakan Tiga Puluh September alias G/30/S yang diluncurkan oleh Partai Komunis Indonesia alias PKI, ternyata menemui kegagalan, dan dengan cepat pada hari berikutnya, 1 Oktober 1965, pemerintah berhasil mengatasi keadaan darurat negara setelah diculiknya para jenderal petinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dari unsur Angkatan Darat. Keberhasilan menggagalkan upaya kudeta tersebut lantas ditafsirkan oleh Soeharto betapa Pancasila Sakti, menjadi tameng dan tidak goyah sebagai dasar bagi negara, meski tentu saja semua itu tak terlepas dari Kuasa Tuhan Yang Maha Perkasa. Hingga sekarang pun sebenarnya timbul kontroversi mengenai pemilihan istilah tersebut, seolah-olah menafikan keberadaan dan kekuasaan Tuhan dengan mengagung-agungkan Kesaktian Pancasila. Semoga bukan itu yang dimaksudkan oleh para pencetusnya sejak awal.
Mulai lagi dech! ^^; Sedikit sisipan sejarah dalam tiap tulisan. Begitulah! Karena negara kita adalah negara yang sarat berita, cerita, derita, yang terangkum dalam rekam jejak panjang buku besar catatan sejarah. Penulis hanya merasa sungguh sayang jika generasi muda tidak mengenal apalagi mencintai negara dan bangsanya melalui sejarah kebesarannya, terutama generasi yang lebih muda dari penulis yang meski pernah muda, namun belum tua dan baru beranjak dewasa ini... ^^; Berangkat dari kegelisahan semacam itulah, penulis awalnya memberanikan diri menulis novel dengan genre ini! Semoga bisa diterima sebagai upaya memperkenalkan kebesaran tanah air melalui sejarah dan wujud kecintaan penulis pada nusa dan bangsa! :)
Jadi, setelah Hari Kesaktian Pancasila di tahun 2012 ini, pertanyaannya sekarang, siapkah negara menyambut PRAHARA NUSANTARA yang insya Allah akan segera terbit dan beredar dalam waktu semoga tak lama lagi?! :D Mari kita bersama menantikannya! Tetap semangat bekerja dan berkarya! ^^;d
Wassalamu 'alaikum Wr.Wb.
Dhimas Wisnu Mahendra :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar