MINGGU, 23 NOVEMBER 1986
KILAS BALIK, 23 TAHUN LALU
Markas rahasia Sapta Satria kini telah lebih mirip ‘markas’ setelah beberapa minggu lalu anggota Sapta Satria bahu-membahu membuat balai lesehan mengitari batang pohon ceri yang rindang. Meski hanya bermodal beberapa balok kayu bekas dan papan tripleks tipis yang dipaku sejajar menjadi alas tak beratap, tapi kini mereka bisa lebih nyaman dan leluasa bercengkerama sambil duduk berselonjor atau tidur-tiduran. Seperti hari itu, minggu siang usai pemutaran serial Highway to Heaven di TVRI, di kala terik panas mentari tepat ada di atas kepala, melewatkan waktu tidur siang, para anggota kelompok Sapta Satria tampak lengkap berkumpul.
Gesang tampak asyik membuat sketsa, sementara Onggo Dewo dengan lantang mendiktekan apa yang harus digambar. Di atas dahan, Abimanyu berdiri dengan gagah menggenggam pistol mengintai sekeliling, barangkali Gerombolan Si Berat akan datang mengacau. Ronggo yang bertubuh kecil tak mau kalah, menggunakan kekeran binocular, mengamati kanan dan kiri, depan dan belakang, dengan seksama. Teguh memperlambat laju sepeda GT-BMX baru hadiah ulang tahun dari papanya, diikuti Satrio mengayuh sepeda onthel milik ayahnya, warisan mendiang kakek yang konon dulu selalu menemani berjuang gerilya sejak zaman penjajahan Jepang. Yudho melompat dari boncengan, melepas tas punggung yang berat berisi sarat. Setelah saling tos dan berjabat tangan, ketiganya bergabung duduk di sebelah Gesang dan Onggo Dewo. Yudho mengeluarkan botol sirup marquisa kental, diikuti botol plastik besar berisi air mineral dan beberapa cup plastik, disambut gembira teman-temannya yang memang sudah kehausan.
“Kalian menggambar apa?” Tanya Teguh.
“Bagus kalian semua sudah datang! Kami sedang pusing memikirkan cara untuk menyelamatkan dunia!”
“HAH?!!” Yang lain bengong mendengar celutukan Onggo Dewo.
“Memangnya dunia kenapa?” Ronggo menyorot ke arah Onggo Dewo, masih dengan kekerannya.
“Dunia dalam bahaya!!! Alien datang menyerang! Mereka mau membasmi umat manusia! Yang bisa menolong hanya tujuh orang ksatria, yaitu kita, SAPTA SATRIA! Tapi yang aku masih bingung, bagaimana cara kita mengalahkan mereka?” Onggo Dewo menggaruk-garuk kepala.
SAPTA SATRIA Bangkit NO-TO-NO-GO-RO! Munculnya SATRIO PININGIT Setelah GORO-GORO!
Selasa, 04 September 2012
Sabtu, 21 Juli 2012
Update Situs
Alhamdulillah...
Hari pertama puasa, 1 Ramadhan 1432 H, bertepatan dengan tanggal 21 Juli 2012, sukses ngabuburit dengan update situs resmi novel PRAHARA NUSANTARA! ^^; (Woiii ngaji, woiii! Tarawih woiiii! ;p)
Sejumlah pembaruan yang dilakukan, antara lain:
- mengubah perwajahan situs jadi lebih dinamis, pengaturan tata letak, penambahan header dan background picture, semoga bisa jadi lebih menarik. Foto yang ditampilkan adalah lokasi baku tembak tokoh utama kita dan tokoh utama penjahat tentunya, dalam klimaks novel ini! :)
- menambahkan widget-widget seperti Popular Entry, Recent Comment, Twitter Updates, Polling, Statistics, Digital Clock and Date, Page Viewed, Share It, +1 button, juga Universal Converter yang bermanfaat, dan tak ketinggalan Flash Games CONTRA dan SUPER MARIO BROS, bernostalgia dengan sahabat masa kecil, dan karena alasan khusus, kedua game ini muncul juga dalam novelnya! :)
- update terbaru, menambahkan widget MORSE translator! Bagi yang senang bermain sandi rahasia seperti waktu mengikuti kegiatan Pramuka, coba widget sederhana tapi asyik ini! Para anggota SAPTA SATRIA juga saling bertukar pesan rahasia melalui sandi Morse lho! Baca cuplikan dalam novelnya di bawah ini! :)
Hari pertama puasa, 1 Ramadhan 1432 H, bertepatan dengan tanggal 21 Juli 2012, sukses ngabuburit dengan update situs resmi novel PRAHARA NUSANTARA! ^^; (Woiii ngaji, woiii! Tarawih woiiii! ;p)
Sejumlah pembaruan yang dilakukan, antara lain:
- mengubah perwajahan situs jadi lebih dinamis, pengaturan tata letak, penambahan header dan background picture, semoga bisa jadi lebih menarik. Foto yang ditampilkan adalah lokasi baku tembak tokoh utama kita dan tokoh utama penjahat tentunya, dalam klimaks novel ini! :)
- menambahkan widget-widget seperti Popular Entry, Recent Comment, Twitter Updates, Polling, Statistics, Digital Clock and Date, Page Viewed, Share It, +1 button, juga Universal Converter yang bermanfaat, dan tak ketinggalan Flash Games CONTRA dan SUPER MARIO BROS, bernostalgia dengan sahabat masa kecil, dan karena alasan khusus, kedua game ini muncul juga dalam novelnya! :)
- update terbaru, menambahkan widget MORSE translator! Bagi yang senang bermain sandi rahasia seperti waktu mengikuti kegiatan Pramuka, coba widget sederhana tapi asyik ini! Para anggota SAPTA SATRIA juga saling bertukar pesan rahasia melalui sandi Morse lho! Baca cuplikan dalam novelnya di bawah ini! :)
Teaser Novel #06
JAGAD DEWA BATHARA!!!...
Bom Bali I diledakkan oleh Amrozi dan kawan-kawan tanggal 12 Oktober 2002. Jika ditulis begini: 12/10/02, dan sesuai pola, dihilangkan angka 0, maka dihasilkan: 12/1/2.
Tragedi 9/11 terjadi 11 November 2001, yakni 1 tahun sebelumnya. Sesuai pola ditulis: 9/11/01, hilangkan angka 0 menjadi: 9/11/1.
Jika format penulisannya disamakan yakni bulan-tanggal-tahun (mm/dd/yy), diperoleh: 9/11/1 dan 1/12/2!
Hampir semua orang awas dengan kode telepon darurat (Emergency) yang berlaku internasional yaitu 9-1-1! Tapi adakah yang menyadari bahwa kode panggilan darurat di Indonesia adalah: 1-1-2?!
Kode yang sama dengan panggilan Unit Reaksi Cepat Polisi?!
SINTING!!!... SARAP!!!... SETAN!!!... KURAP!!!...
Bom Bali I diledakkan oleh Amrozi dan kawan-kawan tanggal 12 Oktober 2002. Jika ditulis begini: 12/10/02, dan sesuai pola, dihilangkan angka 0, maka dihasilkan: 12/1/2.
Tragedi 9/11 terjadi 11 November 2001, yakni 1 tahun sebelumnya. Sesuai pola ditulis: 9/11/01, hilangkan angka 0 menjadi: 9/11/1.
Jika format penulisannya disamakan yakni bulan-tanggal-tahun (mm/dd/yy), diperoleh: 9/11/1 dan 1/12/2!
Hampir semua orang awas dengan kode telepon darurat (Emergency) yang berlaku internasional yaitu 9-1-1! Tapi adakah yang menyadari bahwa kode panggilan darurat di Indonesia adalah: 1-1-2?!
Kode yang sama dengan panggilan Unit Reaksi Cepat Polisi?!
Seakan tak cukup membuat
tercengang, kali ini tanggal kejadian Bom Bali II yang menyentaknya!
1 Oktober 2005 = 01/10/05! Hilangkan angka 0, tanggal dan bulan ditulis
bolak-balik pun hasilnya sama: 1-1-5! Itu adalah kode darurat Search and
Rescue (SAR)!
Jika diambil 01/10-nya saja, 1-1-0 adalah kode untuk
panggilan, lagi-lagi, POLISI!
SINTING!!!... SARAP!!!... SETAN!!!... KURAP!!!...
Teaser Novel #05
Akeh sing kudhung kuwali lumuten. Padha kapikat katut janji. Teneba
pangkat drajat malah ngajak mlarat. Pintere wicara sing bener digawe
ala. Akeh wong mati pinggir kali. Tanpa sirah mung gembunge...
Terjemahan: Banyak orang bertopi baja hijau lumut. Menjadi terpikat oleh
janji-janji. Diberi pangkat dan kedudukan malah mengajak melarat. Orang
pandai berbicara membuat yang benar jadi salah. Banyak orang mati di
tepi sungai. Tanpa kepala hanya tubuhnya...
(Jangka Jayabaya, bait 130)
* * *
Lelaki itu berlari.
Terengah-engah, ia terus berlari. Malam semakin pekat. Pengejarnya pun
kian dekat. Berpacu cepat dengan bayangan yang mengejarnya hendak
menjerat. Ketakutannya berpadu dengan nafas tersengal, berat menggebu.
Bulan sabit yang mengintai dari balik mega gelap di angkasa, bagai arit
tajam yang siap terayun dan menebas kepalanya.
Sontak kengerian meremang tubuhnya yang bergidik, terkesiap. Sosok itu sudah berdiri menghadang di depannya! Sosok dengan sabit besar, berjubah hitam, wajah tertutup samar, tampak mengenakan topeng. Topeng mengerikan, melotot bertaring! Bagai wajah dewa kematian hendak mencerabut nyawa, menjemput ajalnya!
Sekali tebas, CRAAAT!!! Kepala itu pun menggelinding! Darah menyembur dari pangkal leher, deras memancar! Perlahan tubuh itu jatuh berdebam! Sejenak berjengit dan berkelojotan, lalu diam. Untuk selamanya. Mati penasaran dengan mengenaskan.
Teaser Novel #04
“Nama Irawan Yudho Prawiro khan... Tidak mengandung unsur NO, Yud?”
“PERSETAN!!! NO-TO-NO-GO-RO! Segala HO-NO-CO-RO-KO atau DO-TO-SO-WO-LO... SO WHAT GITU LOCH?!!” Dara sedapat mungkin menahan geli.
“Bagiku ini sudah keterlaluan!!! Dengan atau tanpa pola, takkan kubiarkan orang itu membunuhku, atau siapapun di antara kita!!!” Yudho sungguh-sungguh marah.
Terbayang permainan petak umpet, masa kanak-kanak dahulu. Hanya saja kali ini Yudho merasa berada dalam gelap, dan cuma bisa melihat dari ruang kaca tebal, penuh kabut, serba kedap. Ketika teman-teman sedang mendekam di tempat persembunyian, seorang anak yang mengenakan topeng berjalan mengendap-endap mendekati satu anak yang terdekat.
Tiba-tiba, tanpa ampun, dari belakang ia menikam dan menghunjamkan berkali-kali pisau berkilatan tajam ke punggung teman yang tak pernah menduga!!! Cras! Cras! Cras!!!... Menggelepar, terkapar, meregang nyawa! Bagai burung yang terpojok dalam sangkar, direnggut, dicekik, diremas kuat, lalu dipatahkan lehernya!
Tu, wa, ga, pat, ma, nam, juh, pan, lan, luh...
Siapa teman, siapa musuh?!
Satu ksatria gugur. Satu dari tujuh...
Dua, tiga, empat, lima. Hingga cawan darah penuh!
Belum puas melihat korbannya bergenangan darah, hasrat membunuh anak itu justru kian bertambah. Mengendap-endap, memburu, dengan dingin digoroki temannya, satu persatu! Aksi sadis film bisu! Di akhir permainan, hanya satu anak yang keluar dari tempat sembunyi. Anak yang bisu, gagap, gagu, dengan bibir membiru, pura-pura tidak tahu. Pulang ke rumah, memasang topeng polos agak bodoh dan mimik sedih memelas, wajah aslinya yang kejam dicampakkan terkubur bersama tumpukan enam jasad mungil yang membusuk di dasar gelap bergenang, kubangan sumur!
Yudho bergidik ngeri, terngiang-ngiang di kepala, suara anak kecil itu bergema...
Tu, wa, ga, pat, ma, nam, juh, pan, lan, luh...
Siapa teman, siapa musuh?!
“PERSETAN!!! NO-TO-NO-GO-RO! Segala HO-NO-CO-RO-KO atau DO-TO-SO-WO-LO... SO WHAT GITU LOCH?!!” Dara sedapat mungkin menahan geli.
“Bagiku ini sudah keterlaluan!!! Dengan atau tanpa pola, takkan kubiarkan orang itu membunuhku, atau siapapun di antara kita!!!” Yudho sungguh-sungguh marah.
Terbayang permainan petak umpet, masa kanak-kanak dahulu. Hanya saja kali ini Yudho merasa berada dalam gelap, dan cuma bisa melihat dari ruang kaca tebal, penuh kabut, serba kedap. Ketika teman-teman sedang mendekam di tempat persembunyian, seorang anak yang mengenakan topeng berjalan mengendap-endap mendekati satu anak yang terdekat.
Tiba-tiba, tanpa ampun, dari belakang ia menikam dan menghunjamkan berkali-kali pisau berkilatan tajam ke punggung teman yang tak pernah menduga!!! Cras! Cras! Cras!!!... Menggelepar, terkapar, meregang nyawa! Bagai burung yang terpojok dalam sangkar, direnggut, dicekik, diremas kuat, lalu dipatahkan lehernya!
Tu, wa, ga, pat, ma, nam, juh, pan, lan, luh...
Siapa teman, siapa musuh?!
Satu ksatria gugur. Satu dari tujuh...
Dua, tiga, empat, lima. Hingga cawan darah penuh!
Belum puas melihat korbannya bergenangan darah, hasrat membunuh anak itu justru kian bertambah. Mengendap-endap, memburu, dengan dingin digoroki temannya, satu persatu! Aksi sadis film bisu! Di akhir permainan, hanya satu anak yang keluar dari tempat sembunyi. Anak yang bisu, gagap, gagu, dengan bibir membiru, pura-pura tidak tahu. Pulang ke rumah, memasang topeng polos agak bodoh dan mimik sedih memelas, wajah aslinya yang kejam dicampakkan terkubur bersama tumpukan enam jasad mungil yang membusuk di dasar gelap bergenang, kubangan sumur!
Yudho bergidik ngeri, terngiang-ngiang di kepala, suara anak kecil itu bergema...
Tu, wa, ga, pat, ma, nam, juh, pan, lan, luh...
Siapa teman, siapa musuh?!
OST Novel: Instrumental
Video lagu JERIT PRAJURIT yang ditampilkan di sini adalah versi instrumental yang memang direncanakan sebagai Background Music pengiring bagi sejumlah scene dalam film PRAHARA NUSANTARA, dengan catatan ada yang berminat memproduserinya! ;p Meski demikian lagu itu mempunyai lirik lho! Pada lain kesempatan, insya Allah, penulis, eh pemusik, akan mencoba memainkan sembari menyanyikannya, ehm! EHM! ;p~ Hehehe...
Semoga dengan membaca lirik lagu tersebut, seperti halnya dua lagu tema novel sebelumnya, pembaca bisa lebih menangkap kesan yang mendalam dari novelnya, seraya membayangkan kira-kira akan jadi seperti apa novel ini bila difilmkan yaaa? :D Akan menarik, Insya Allah, tentunya! Ya, semoga! :)
Terima kasih atas do’a dan dukungan dari teman-teman semua! ^^;v
Terus berkarya dan jangan patah semangat! Selamat Berjuang!!! ^^;v
Semoga dengan membaca lirik lagu tersebut, seperti halnya dua lagu tema novel sebelumnya, pembaca bisa lebih menangkap kesan yang mendalam dari novelnya, seraya membayangkan kira-kira akan jadi seperti apa novel ini bila difilmkan yaaa? :D Akan menarik, Insya Allah, tentunya! Ya, semoga! :)
Terima kasih atas do’a dan dukungan dari teman-teman semua! ^^;v
Terus berkarya dan jangan patah semangat! Selamat Berjuang!!! ^^;v
Jumat, 20 Juli 2012
Kamilah Sapta Satria!
SAPTA SATRIA, as drawn by Wisanggeni
(Ki-ka): Irawan YUDHO
Prawiro, RONGGO Waskito, SATRIO Adiguno Pranoto, ABIMANYU Wibisono,
TEGUH Samudro, ONGGO DEWO Pamungkas, GESANG Priyo Utomo
(Gatotkaca,
Irawan, Antareja, Abimanyu, Pancawala, Antasena, Wisanggeni)
Langganan:
Postingan (Atom)