Akeh sing kudhung kuwali lumuten. Padha kapikat katut janji. Teneba
pangkat drajat malah ngajak mlarat. Pintere wicara sing bener digawe
ala. Akeh wong mati pinggir kali. Tanpa sirah mung gembunge...
Terjemahan: Banyak orang bertopi baja hijau lumut. Menjadi terpikat oleh
janji-janji. Diberi pangkat dan kedudukan malah mengajak melarat. Orang
pandai berbicara membuat yang benar jadi salah. Banyak orang mati di
tepi sungai. Tanpa kepala hanya tubuhnya...
(Jangka Jayabaya, bait 130)
* * *
Lelaki itu berlari.
Terengah-engah, ia terus berlari. Malam semakin pekat. Pengejarnya pun
kian dekat. Berpacu cepat dengan bayangan yang mengejarnya hendak
menjerat. Ketakutannya berpadu dengan nafas tersengal, berat menggebu.
Bulan sabit yang mengintai dari balik mega gelap di angkasa, bagai arit
tajam yang siap terayun dan menebas kepalanya.
Sontak kengerian meremang tubuhnya yang bergidik, terkesiap. Sosok itu sudah berdiri menghadang di depannya! Sosok dengan sabit besar, berjubah hitam, wajah tertutup samar, tampak mengenakan topeng. Topeng mengerikan, melotot bertaring! Bagai wajah dewa kematian hendak mencerabut nyawa, menjemput ajalnya!
Sekali tebas, CRAAAT!!! Kepala itu pun menggelinding! Darah menyembur dari pangkal leher, deras memancar! Perlahan tubuh itu jatuh berdebam! Sejenak berjengit dan berkelojotan, lalu diam. Untuk selamanya. Mati penasaran dengan mengenaskan.
Sang penjagal sadis menatap dingin tubuh korban tanpa kepala. Dengan tenang rambut kepala lelaki malang itu dijambaknya, lalu kepala dengan mata mendelik dan mulut ternganga bagai sampai akhir tak percaya itu dimasukkannya ke dalam kantong kresek hitam, diikat rapat, dilempar ke sebalik rerimbunan rerumputan. Ganti tubuh korban diseret ke balik semak-semak, dikeluarkan karung goni, dengan susah payah dimasukkan jasad buntung tanpa kepala ke dalam dan diikatnya kuat dengan tali rafia yang telah dipersiapkan semuanya dengan matang.
Pembunuh berdarah dingin dengan tenang melakukan itu semua seolah hal biasa saja. Setelah selesai mengelap bekas darah korbannya di trotoar, dibungkusnya sabit maut itu dengan kertas koran. Ringan ditentengnya kresek berisi kepala, dan diseretnya karung goni berisi batang tubuh. Koran berisi sabit dikepit di ketiak.
Berjalan tersaruk-saruk tapi mantap, perlahan makin jauh meninggalkan tempat kejadian perkara dan menghilang di balik remang hening dan dingin bernuansa mistis kabut malam.
* * *
"Di bawah sinar bulan purnama…”
Lelaki tua itu pucat pasi. Menjulurkan lidah, membelalakkan mata cekungnya.
“Air laut berkilauan…”
Lehernya tercekik cengkeraman kuat lengan tak seberapa kekar yang mengangkat tinggi-tinggi tubuh ringkihnya yang gemetaran.
“Berayun-ayun ombak mengalir…”
Kakinya berkelojotan menjejak-jejak, sia-sia berusaha mencari pijak.
“Ke pantai senda gurauan…”
Tangan lelaki tua itu menggapai-gapai lemah ruang kosong. Tangan yang sebelah lagi susah payah berusaha melepaskan cengkeraman di lehernya yang megap-megap.
“Di bawah sinar bulan purnama…”
Lagu keroncong gubahan R. Maladi yang dinyanyikan Kartina Dahari (1967) dan dipopulerkan lagi oleh Sundari Soekotjo itu masih mengalun lembut dari piringan hitam klasik kenangan di ruangan sebelah. Hanya siluet bayangan mengerikan adegan tubuh terangkat cengkeram cekik di leher yang terpantul di dinding kusam pucat tertimpa sorot cahaya lampu tidur yang remang-remang, membuat bulu kuduk kian meremang.
Pemuda
itu mengenakan topeng raksasa merah! Kekuatannya di luar batas nalar.
Tangan kiri menggeremet leher pria tak berdaya, tangan kanannya mencabut
dari balik jubah dengan perlahan, sebilah keris! Tak menggubris lelaki
tua yang malang, sejenak si pemuda tampak takjub mengagumi keris berluk
tiga belas di genggamannya. Inilah keris wasiat Majapahit! Yang dulu
hilang melesat bagai lintang kemukus dan berjanji kembali setelah
berlalu masa lima ratus tahun! Keris yang merupakan pertanda datang
ontran-ontran atau masa kekacauan, yang identik dengan kehadiran zaman
Goro-Goro!
Dhimas Wisnu Mahendra :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar