“BANGUNLAH, NGGER!”
“S… Siapa?”
“Bangunlah dari tidur panjangmu. Sadarilah kembali sejatinya dirimu.”
“Aku?... Siapakah Aku?”
“Masa
lima ratus tahun sudah lewat. Saatnya menagih hutang janji dan
membalaskan dendam kesumat. Aku kembali datang setelah terasing di
negeri seberang. Akulah yang akan menuntun jalan untuk memenuhi
takdirmu! Kau adalah yang tersembunyi dan engkaulah yang terang! Kau
adalah yang dinanti, dan saatnya telah datang!”
”Tapi, aku tak mengerti...”
”Saat
ini kau memang belum mengerti, tapi Aku datang untuk mendampingi.
Ikutilah kata hati! Dengarkan kata-kataku, karena Akulah yang samar
namun nyata adanya. Aku yang selalu hadir namun tetap tersembunyi.
Singgasana-Ku adalah persemayaman dalam hati nurani. Dan segala titah-Ku
mesti berkuasa atasmu, harus engkau laksanakan! Maka lakukanlah, Ngger!
Kerjakan apa yang harus engkau kerjakan! Aku akan mengilhami. Nanti
juga kau akan mengerti!”
”Jadi... Apa yang harus Aku lakukan?”
”KELUAR DARI PINGITAN!!!”
* * *
SEKARANG!!!
27 NOVEMBER 2009
13:50 WIB, 10 MENIT LAGI…
SEPULUH menit. Hanya itulah sisa waktu yang mereka miliki. Tik!
Jam digital nan tersembunyi itu berganti menit. Dua digit detiknya
terus berlari, tak hendak berhenti. Di tingkah detak jantung berdebar
kencang, degup gugup naluri memacu deras adrenalin, menyembur dalam
denyutan kalut nadi.
Derap langkah susul-menyusul berebut menuruni
tangga batu, mengejar milidetik meluncur laju. Hitung mundur bergulir.
Sisa SEMBILAN menit lagi...
DRANG! DRANG! DRANG!... BRANG!!!
Gerendel itu pun hancur! Rantai besi bergembok yang menjerat gerbang
menuju lorong terbawah bangunan tua dirusak paksa dengan tebas kapak dan
parang!
“CARI! BERPENCAR!! TEMUKAN!!!”
Melongok
lewat celah batang demi batang jeruji, gaung seru memekik memecah
sunyi. Tapak-tapak di atas kecipak, berpencar, berlari, menyusuri kelam
suram penjara bawah tanah yang menyimpan beribu kisah pilu, sayat
lengkingan penuh misteri, korban pembantaian dan kebiadaban yang jauh
dari manusiawi, lebih setengah abad lalu, di sini!
Penjara bawah
tanah itu sejatinya adalah bekas saluran pembuangan air, terletak di
dasar gedung bersejarah bertingkat tiga peninggalan zaman Belanda.
Bangunan angker yang bergeming dingin angkuh di simpang kota itu menjadi
saksi bisu kekejaman tentara Jepang, sekaligus aksi heroik dan
patriotik para pemuda pejuang Indonesia.
Dinding-dinding lorong
sempit dan langit-langit rendah bagai menghimpit. Satu regu kecil
pasukan elit menyebar di perut bumi sambil berusaha menepikan kuduk yang
bergidik ngeri. Dalam ilusi, mereka bagai tengah berhadapan dengan
ratusan makhluk gaib mengambang yang bersarang dan jadi penghuni! Setan
penasaran, lelembut, hantu jejadian, memedi, arwah gentayangan,
penampakan bayang!
Sosok kabut putih pecah ditembus peluru yang
ditembakkan salah satu anggota. Bayangan hitam tinggi besar yang
menghalang musnah ditebas bayonet oleh anggota yang melumuri wajah tak
kalah seram dengan jelaga hitam. Sementara di sudut lain penjara,
sayup-sayup terdengar tawa wanita mengikik yang berubah jadi jerit
lengking meninggi, disusul hujan tembakan kalap, menyalak dari senjata
api!
Ini bukan waktunya takut pada yang semestinya
sudah mati! Jika mereka gagal mengemban misi, akan jatuh lebih banyak
korban menemani mati! Nasib semua orang, bahkan penduduk seluruh negeri,
kini bergantung pada mereka yang ada di bawah sini, saat ini! Jika
hidup terlalu berharga untuk diakhiri, peluang bertahan hidup dalam
sempitnya waktu menjadi begitu berarti! Ini saatnya berjudi dengan
waktu, bertaruh hidup dan mati!
DELAPAN menit lagi! Atau tak ada esok hari!
“… DI SINIIII!!!”
Spontan anggota pasukan khusus lain yang tengah berjibaku dengan
kegelapan berhenti dan tergopoh menghampiri. Lima orang tiba hampir
bertabrakan. Kelimanya berkerumun di depan salah satu sel jongkok
setinggi satu meter yang pengap, becek, lembab, digenangi air keruh yang
berbau busuk tajam, begitu menusuk. Bangkai tikus got teronggok di
banyak sudut, bercampur aroma anyir darah peninggalan kesadisan di masa
silam, membuat mual, pusing, nyaris muntah, mengocok perut, bergolak
jadi satu.
Seperti sang pemanggil, yang lain pun turut menggigil!
Di hadapan mereka kini, sebuah peti mati terbuat dari kayu jati,
teronggok dalam remang seram! Bergeming dan membisu di pojok ruang!
Tutupnya tergeser setengah terbuka…
Tentu saja, itu bukanlah peti mati Dracula!
Dalam
hening yang mencekam, bunyi detikan itu begitu nyaring menggema di
seantero dinding lapuk bawah bumi. Merayap jauh ke dasar lubuk hati,
menggetarkan tiap lapis membran tipis sanubari. TUJUH menit dan sepuluh
detik lagi adalah waktu yang tinggal mereka miliki! Di dalam peti,
sepasang tabung besar setinggi orang dewasa dengan rumit rangkaian kabel
melilit memangku kotak hitam yang memendarkan lewat celah, pulas warna
merah darah, empat digit deret angka penunjuk waktu tersisa:
06:59
Menuju tamat riwayat REPUBLIK INDONESIA![]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar