SAPTA SATRIA Bangkit NO-TO-NO-GO-RO! Munculnya SATRIO PININGIT Setelah GORO-GORO!

Jumat, 20 Juli 2012

Teaser Novel #02

”Satria keenam bergelar Satrio Boyong Pambukaning Gapura. Yang dimaksud adalah presiden Republik Indonesia saat ini, Susilo Bambang Yudhoyono. Mengapa disebut boyong? Karena ia kerap boyongan atau berpindah-pindah posisi. Dari semula seorang Letnan Jenderal TNI aktif, tak disangka karir militernya harus terhenti ketika diangkat dalam jabatan sipil sebagai Menteri Pertambangan dan Energi pada era Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Tidak lama di posisi itu, ia dialihtugaskan menjadi Menteri Koordinator bidang Politik, Sosial dan Keamanan (Menkopolsoskam) yang lalu diberhentikan karena gagal mencegah upaya impeachment terhadap Gus Dur oleh MPR yang gerah terhadap sepak terjang sang presiden, meskipun kepada SBY telah diberikan Maklumat, pengganti Dekrit yang sempat diancamkan akan diterbitkan, untuk melakukan segala tindakan yang diperlukan guna mengatasi krisis serta ’menegakkan ketertiban, keamanan, dan hukum secepat-cepatnya’. SBY tidak dapat berbuat apa-apa, karena hanya delapan jam setelah Maklumat, MPR mempercepat diselenggarakan Sidang Istimewa (SI). Setelah Gus Dur diberhentikan melalui SI MPR, SBY diangkat lagi oleh Presiden Megawati Soekarnoputeri menjadi Menteri Koordinator bidang Politik dan Keamanan (Menkopolkam). Menjelang Pemilihan Umum 2004, SBY mengundurkan diri sebagai menteri dan mendirikan Partai Demokrat sebagai jembatan pengantar dirinya berlaga memperebutkan kursi RI-1. Pada pemilihan umum pertama yang dipilih langsung oleh rakyat tahun 2004, ia dengan gemilang memenangkan suara mayoritas sehingga terpilih sebagai presiden yang keenam, pindah dari kantor Menteri Koordinator, untuk berdiam di Istana Negara sebagai orang nomor satu di negeri ini. Adapun Pambukaning Gapura atau pembuka gerbang bisa diartikan bahwa pada masa kepemimpinannyalah terbuka gerbang menuju kebangkitan kembali kebesaran Indonesia sebagai bangsa hingga kelak akan tiba di masa keemasan pada era presiden ketujuh, yakni satria ketujuh yang bergelar Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu, yang berarti satria berwatak pendeta atau ulama yang kejatuhan wahyu, yakni manusia pilihan yang diridhoi oleh Tuhan maupun alam untuk menegakkan kembali kejayaan di bumi Nusantara ini!”

“Dan Satrio Pinandito inilah yang dalam riwayat yang lain disebut sebagai Satrio Piningit sejati yang dirindukan hadirnya oleh bangsa ini, untuk membenahi negara dari kekacauan yang sudah terlampau parah merambah segala bidang, yang jika tidak dicegah akan membawa kapal negara ini tenggelam karam menuju kehancuran! Kekacauan inilah yang kita sebut Goro-Goro!” Satrio menambahkan keterangannya.
 

“Aku mulai mengerti... Jadi Satrio Piningit sejati akan muncul jika telah terjadi Goro-Goro di negeri ini. Munculnya Satrio Piningit Setelah Goro-Goro! Jika berdasar pada keteranganmu, Goro-Goro yang dimaksud itu agaknya bukanlah kerusuhan massal pada 13-14 Mei 1998, meski bisa dibilang momentum itu adalah percik api pertama pemicunya, namun bola api raksasa itu terus bergulir, dan kini semakin menjadi-jadi, bukan begitu?” AKBP Gondo Sunyoto mengapungkan wacana.
 

“Benar, Pak. Saat ini yang kita khawatirkan masih belum datang, tapi mungkin waktunya akan tiba sebentar lagi. Sumbu mulai disulut. Tanda-tanda ke arah sana sudah mulai terendus bau bakar. Mulai dari marak aksi terorisme satu dekade terakhir, ancaman separatisme, hingga gerakan sosial bawah tanah yang menjurus anarkisme sudah mulai bermunculan di sana-sini. Mengacu pada pesan Abimanyu dalam e-mail, apabila benar yang dikatakannya bahwa Satrio Piningit gadungan ini adalah mastermind dari semua gejolak meresahkan di tanah air, dan bahkan Abimanyu sendiri yang sudah sedemikian dekat tetap tak bisa menguak misteri jati diri di balik kedoknya, serta aparat selalu gagal mengendus keberadaannya, bisa dibayangkan betapa berbahayanya orang ini, dan apa lagi yang dapat dan akan ia lakukan? Tanpa mengecilkan kerja keras dan kemampuan kepolisian kita yang telah berusaha maksimal, nyatanya hingga sekarang siapa otak sesungguhnya yang berada di balik jejaring aksi terorisme, yang mengendalikan benang halus boneka-bonekanya dari balik layar hitam, tak jua berhasil disingkap identitasnya. Semua informasi yang mengarah kepadanya bak terputus, para teroris yang tertangkap bungkam, gembong teroris yang ditengarai punya informasi itu malah hampir semuanya telah ditewaskan dan teguh membawa rahasia ini sampai mati! Luar biasa menurut saya, kesetiaan mereka. Atau, jangan-jangan, mereka sendiri tak pernah sadar bahwa idealisme yang konon mereka perjuangkan itu sebenarnya diam-diam telah disetir dan ditunggangi pihak lain, misalnya Satrio Piningit palsu ini? Adalah Abimanyu, sepengetahuan saya, yang pertama kali menguak keberadaannya dan memberi kita petunjuk yang nyata! Jelas ini adalah informasi krusial konfidensial kelas satu yang harus secepatnya ditindaklanjuti. Saya khawatir, Pak, jika tak segera dicegah, maka Goro-Goro yang sesungguhnya dalam waktu dekat akan pecah meledak dalam skala yang lebih besar daripada kerusuhan terdahulu, angin prahara durjana yang memang sengaja dihembuskan oleh Satrio Piningit gadungan sebagai penanda kemunculannya!"

Dhimas Wisnu Mahendra :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar