”Satria keenam bergelar Satrio Boyong Pambukaning Gapura. Yang dimaksud
adalah presiden Republik Indonesia saat ini, Susilo Bambang Yudhoyono.
Mengapa disebut boyong? Karena ia kerap boyongan atau berpindah-pindah
posisi. Dari semula seorang Letnan Jenderal TNI aktif, tak disangka
karir militernya harus terhenti ketika diangkat dalam jabatan sipil
sebagai Menteri Pertambangan dan Energi pada era Presiden
Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Tidak lama di posisi itu, ia
dialihtugaskan menjadi Menteri Koordinator bidang Politik, Sosial dan
Keamanan (Menkopolsoskam) yang lalu diberhentikan karena gagal mencegah
upaya impeachment terhadap Gus Dur oleh MPR yang gerah terhadap sepak
terjang sang presiden, meskipun kepada SBY telah diberikan Maklumat,
pengganti Dekrit yang sempat diancamkan akan diterbitkan, untuk
melakukan segala tindakan yang diperlukan guna mengatasi krisis serta
’menegakkan ketertiban, keamanan, dan hukum secepat-cepatnya’. SBY tidak
dapat berbuat apa-apa, karena hanya delapan jam setelah Maklumat, MPR
mempercepat diselenggarakan Sidang Istimewa (SI). Setelah Gus Dur
diberhentikan melalui SI MPR, SBY diangkat lagi oleh Presiden Megawati
Soekarnoputeri menjadi Menteri Koordinator bidang Politik dan Keamanan
(Menkopolkam). Menjelang Pemilihan Umum 2004, SBY mengundurkan diri
sebagai menteri dan mendirikan Partai Demokrat sebagai jembatan
pengantar dirinya berlaga memperebutkan kursi RI-1. Pada pemilihan umum
pertama yang dipilih langsung oleh rakyat tahun 2004, ia dengan gemilang
memenangkan suara mayoritas sehingga terpilih sebagai presiden yang
keenam, pindah dari kantor Menteri Koordinator, untuk berdiam di Istana
Negara sebagai orang nomor satu di negeri ini. Adapun Pambukaning Gapura
atau pembuka gerbang bisa diartikan bahwa pada masa kepemimpinannyalah
terbuka gerbang menuju kebangkitan kembali kebesaran Indonesia sebagai
bangsa hingga kelak akan tiba di masa keemasan pada era presiden
ketujuh, yakni satria ketujuh yang bergelar Satrio Pinandito Sinisihan
Wahyu, yang berarti satria berwatak pendeta atau ulama yang kejatuhan
wahyu, yakni manusia pilihan yang diridhoi oleh Tuhan maupun alam untuk
menegakkan kembali kejayaan di bumi Nusantara ini!”
“Dan Satrio Pinandito inilah
yang dalam riwayat yang lain disebut sebagai Satrio Piningit sejati yang
dirindukan hadirnya oleh bangsa ini, untuk membenahi negara dari
kekacauan yang sudah terlampau parah merambah segala bidang, yang jika
tidak dicegah akan membawa kapal negara ini tenggelam karam menuju
kehancuran! Kekacauan inilah yang kita sebut Goro-Goro!” Satrio
menambahkan keterangannya.
“Aku mulai mengerti... Jadi Satrio
Piningit sejati akan muncul jika telah terjadi Goro-Goro di negeri ini.
Munculnya Satrio Piningit Setelah Goro-Goro! Jika berdasar pada
keteranganmu, Goro-Goro yang dimaksud itu agaknya bukanlah kerusuhan
massal pada 13-14 Mei 1998, meski bisa dibilang momentum itu adalah
percik api pertama pemicunya, namun bola api raksasa itu terus bergulir,
dan kini semakin menjadi-jadi, bukan begitu?” AKBP Gondo Sunyoto
mengapungkan wacana.
“Benar, Pak. Saat ini yang kita khawatirkan
masih belum datang, tapi mungkin waktunya akan tiba sebentar lagi. Sumbu
mulai disulut. Tanda-tanda ke arah sana sudah mulai terendus bau bakar.
Mulai dari marak aksi terorisme satu dekade terakhir, ancaman
separatisme, hingga gerakan sosial bawah tanah yang menjurus anarkisme
sudah mulai bermunculan di sana-sini. Mengacu pada pesan Abimanyu dalam
e-mail, apabila benar yang dikatakannya bahwa Satrio Piningit gadungan
ini adalah mastermind dari semua gejolak meresahkan di tanah air, dan
bahkan Abimanyu sendiri yang sudah sedemikian dekat tetap tak bisa
menguak misteri jati diri di balik kedoknya, serta aparat selalu gagal
mengendus keberadaannya, bisa dibayangkan betapa berbahayanya orang ini,
dan apa lagi yang dapat dan akan ia lakukan? Tanpa mengecilkan kerja
keras dan kemampuan kepolisian kita yang telah berusaha maksimal,
nyatanya hingga sekarang siapa otak sesungguhnya yang berada di balik
jejaring aksi terorisme, yang mengendalikan benang halus
boneka-bonekanya dari balik layar hitam, tak jua berhasil disingkap
identitasnya. Semua informasi yang mengarah kepadanya bak terputus, para
teroris yang tertangkap bungkam, gembong teroris yang ditengarai punya
informasi itu malah hampir semuanya telah ditewaskan dan teguh membawa
rahasia ini sampai mati! Luar biasa menurut saya, kesetiaan mereka.
Atau, jangan-jangan, mereka sendiri tak pernah sadar bahwa idealisme
yang konon mereka perjuangkan itu sebenarnya diam-diam telah disetir dan
ditunggangi pihak lain, misalnya Satrio Piningit palsu ini? Adalah
Abimanyu, sepengetahuan saya, yang pertama kali menguak keberadaannya
dan memberi kita petunjuk yang nyata! Jelas ini adalah informasi krusial
konfidensial kelas satu yang harus secepatnya ditindaklanjuti. Saya
khawatir, Pak, jika tak segera dicegah, maka Goro-Goro yang sesungguhnya
dalam waktu dekat akan pecah meledak dalam skala yang lebih besar
daripada kerusuhan terdahulu, angin prahara durjana yang memang sengaja
dihembuskan oleh Satrio Piningit gadungan sebagai penanda
kemunculannya!"
Dhimas Wisnu Mahendra :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar